Film Laskar Pelangi ?

Tau novel terkenal ini kan ? Laskar Pelangi
Siapa yang gak tau novel terkeren yang pernah gw baca.
Nah, oleh karena itu, novel gigaseller ini bakal diangkat menjadi film yang akan dirilis sebelum/setelah lebaran.

Pertama-tama kita bahas tentang Original Soundtrack Laskar Pelangi ini. Yang digarap oleh NIDJI dan beberapa musisi kawakan lainnya. Judulnya juga sama, Laskar Pelangi

Liriknya gw kutip dari www.nidjiholic.com / www.nidjizone.co.cc / nidji.blogspot.com

mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
telah hilang
tanpa lelah sampai engkau
meraihnya

laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
raih bintang di jiwa

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya...

cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita

laskar pelangi
takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi

menarilah dan terus tertawa
walau dunia takseindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya...
Download mp3 live version di sini (4sahred)

Sekarang, kutipan-kutipan berita yang terkait tentang Film Laskar Pelangi ini,

Dari KapanLagi.com - Mira Lesmana Akan Buat Film LASKAR PELANGI
Kapanlagi.com - Setelah mendulang sukses dalam pembuatan beberapa film, akhirnya kini Mira Lesmana akan membuat kembali sebuah film yang saat ini sedang dalam tahap proses pengerjaan.

"Saat ini saya lagi sibuk untuk proses pembuatan film terbaru berjudul LASKAR PELANGI," ungkap Mira Lesmana memberikan bocoran secara eksklusif kepada kontributor berita Kapanlagi.com di Medan pada, Minggu (16/12) bertempat di Hotel Madani - Medan.

Menurut, Mira film tersebut didasarkan pada sebuah buku yang saat ini cukup laris. "Dasar pembuatan film tersebut dari novel yang cukup laris saat ini, dikarang oleh Andrea Hirata, berjudul LASKAR PELANGI," jelas wanita kelahiran, Jakarta, 08 Agustus 1964.

Mira Lesmana menambahkan, dalam proses pembuatan film tersebut seluruh pengambilan gambar dan syuting akan dilakukan di Belitung. "Seluruh proses pembuatan film dan pengambilan gambar untuk film ini dilakukan di Belitung, satu hal yang cukup istimewa dalam film nantinya seluruh pemain asli orang Belitung. Jadi kita pakai orang-orang Belitung," tutur Mira.

Jadi, menurut Mira yang telah sukses membawa beberapa filmnya di bawah payung Miles Production, Mira tidak menyangkal juga akan memakai aktor profesional. "Anak-anak Belitung kita utamakan, tetapi bukan tidak mungkin akan hadir aktor profesional karena ada beberapa nantinya yang sulit. Dan saat ini pun sebagian anak-anak Belitung sedang dilatih di Jakarta," papar Mira yang juga istri dari aktor Mathias Muchus ini.

Untuk memulai proses pembuatan film ini, ibunda dari Galih dan Kafka harus merelakan dirinya lelah. "Ya, saya harus rela untuk pulang pergi ke Jakarta - Belitung untuk melakukan share dan survei lokasi. Dan sudah dua kali saya ke sana, baru beberapa hari lalu aku balik dari Bangka Belitung," tutur Mira.

Dalam proses pembuatan film ini, Mira yang pernah meraih penghargaan dalam Festival Film Internasional Singapura pada April 2002 dan meraih predikat Special Mention untuk kategori penghargaan Dragons and Tigers for Young Cinema di ajang Festival Film Internasional Vancouver di Kanada, Oktober 2002 untuk film ELIANA-ELIANA, membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Paling membutuhkan waktu sebulan setengah untuk proses film ini," tegas Mira.

Film yang LASKAR PELANGI sendiri menurut, Mira menceritakan sebuah harapan seorang anak. "Film LASKAR PELANGI ini menceritakan seorang anak di Belitung yang tidak mampu bersekolah, tetapi memiliki keinginan kuat untuk sekolah," jelas Mira.

Lantas saat ditanya apakah film ini akan meniru film DENIAS yang telah mendulang sukses, Mira akan berusaha tidak meniru. "Aku berusaha, nantinya film ini tidak akan seperti film DENIAS. Di sini akan terjadi sebuah perbedaan," pungkas Mira.

Mira juga memiliki target untuk merampungkan film tersebut. "Insya Allah, kutargetkan pada Oktober 2008 sudah rampung untuk ditayangkan," tegas Mira. (rumulo/kpl)
Dari DetikHot.com - Bertabur Bintang Muda di Film "Laskar Pelangi"
Jakarta Setelah 'Petualangan Sherina', Mira Lesmana dan Riri Riza kembali mencoba membuat film anak-anak. Kali ini diangkat dari novel laris karya Andrea Hirata, 'Laskar Pelangi'. Sederet aktor-aktris muda nan fresh menjadi bintangnya.

"Untuk anak-anak Laskar Pelangi semuanya pendatang baru. Semuanya pastinya orang asli Belitong," ujar Mira saat ditemui di diskusi buku 'Laskar Pelangi' di Islamic Book Fair, Senayan, Jakarta, Kamis (6/3/2008).

'Laskar Pelangi' berkisah tentang sepuluh anak kampung di Pulau Belitong, Sumatera. Mereka bersekolah di sebuah SD yang bangunannya nyaris rubuh dan kalau malam jadi kandang ternak. Sekolah itu nyaris ditutup karena muridnya tidak sampai sepuluh sebagai persyaratan minimal.

Mira dan Riri tertarik untuk memfilmkan 'Laskar Pelangi' karena dia ingin berbagi semangat sekolah itu kepada penonton dan nilai-nilai kemanusiaan lain yang terdapat dalam buku itu. "Spirit dari buku ini penting banget," jelasnya.

Untuk memilih pemain 'Laskar Pelangi', sineas yang memproduksi 'Ada Apa Dengan Cinta?' itu mengaku berhati-hati. Ia tidak mau cepat-cepat dan asal memilih.

"Kita harus menyesuaikan wajah dari aktor dengan karakternya," tutur Mira lagi.

Tim Miles Films sudah mencasting untuk mencari bintang 'Laskar Pelangi' sejak Desember 2007. Syuting film tersebut baru akan dimulai Mei 2008 mendatang. Layar lebar anak-anak itu diharapkan rilis pada masa Lebaran.(eny/eny)
Dari abiku2008.multiply.com - Film Laskar Pelangi, Diperankan Anak Belitung Tulen
Kabar gembira. Film Laskar Pelangi yang diadaptasi dari novel laris dengan judul sama, rencananya akan syuting perdana pada 25 Mei mendatang.

Film ini diproduseri oleh Mira Lesmana dan disutradarai Riri Riza. Proses syuting sepenuhnya dilakukan di Pulau Belitung, agar sesuai dengan cerita yang dituturkan penulis novelnya, Andrea Hirata.

Kesepuluh tokoh Laskar Pelangi sudah ditemukan melalui casting yang dilakukan oleh Mira dan Riri, serta didampingi Andrea beberapa waktu lalu. Semuanya orang Belitung tulen. Itu sengaja dilakukan supaya mendapatkan keaslian orang Belitung.

Dari 1300 anak yang difoto dan diseleksi, akhirnya terpilih 12 orang. Dua di antaranya akan memerankan tokoh Aling (gadis yang ditaksir oleh Ikal) dan Flo (murid pindahan dari sekolah lain). Kedua orang itu bukan bagian dari kesepuluh Laskar Pelangi. Tetapi tetap menjadi bagian dari cerita, baik film maupun novelnya.

Selama sebulan, kata Mira, kedua belas anak itu mengikuti pelatihan. Kendati tidak memiliki latar belakang akting mereka dinilai berpotensi dan memiliki karakter alami untuk memerankan tokoh-tokohnya. "Mereka tinggal dibiasakan berhadapan dengan kamera saja, " kata Mira.

Sementara tokoh Bu Mus dan Pak Harfan diperankan artis kenamaan dari Jakarta. Begitu pula dengan tokoh Ikal dan Lintang remaja. Untuk Bu Mus, guru berdedikasi tinggi yang memotivasi kesepuluh anak-anak Laskar Pelangi, ada tujuh aktris yang diaudisi. Sedangkan Pak Harfan, sang Kepala Sekolah, ada tiga aktor. "Kami belum bisa menyebutkan siapa yang memerankan. Nanti jika sudah tanda tangan kontrak akan dipublikasikan," ujar Mira.

Ada Hal Baru
Mira mengakui tidak mudah mengadaptasi novel menjadi karya film. Biasanya, kata Mira, kesulitannya terletak pada keterlibatan penulis novel ketika memproduksi film. Namun Andrea untungnya memberi kebebasan ke Mira dkk. "Andrea juga mengatakan tidak akan merecoki dalam penulisan skenario. Tetapi bagaimanan pun cerita ini milik Andrea. Kami tidak akan syuting jika dia tidak menyetujui skripnya," kata Mira.

Akibat kebebasan itu Mira, Riri, dan Salman Aristo yang menulis skenario, mengaku menemukan sesuatu yang baru dalam skenario. Hal itu merupakan hasil pengayaan melalui wawancara dengan beberapa tokoh dalam novel yang masih hidup.

Kelak kebaruan itu akan ditawarkan kepada penonton. Pun Andrea terkejut dan gembira ketika mengetahuinya. "Pengayaan itu menurut Andrea adalah bagian yang ingin ditulis tetapi tidak tertulis dalam novel tersebut," ungkap Mira.

Meskipun mendapat kebebasan, kata Mira, timnya sangat membutuhkan Andrea dalam proses produksi. Terutama mengenalkan Pulau Belitung, tempat kisah Laskar Pelangi itu berada. Dengan senang hati Andrea mau menemani tim film Laskar Pelangi menginjakkan kaki di pulau yang kaya akan timah tersebut. Kata Mira, Andrea memiliki ingatan visual yang luar biasa. Andrea pun banyak memberi saran dalam hal artistik.

Sementara untuk penulis skenario Mira menyerahkannya kepada Salman Aristo. Kebetulan Salman menggemari novel-novel Andrea. Ketiga novel Andrea telah Salman baca, mulai dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Hanya novel ke empat berjudul Maryamah Karpov karena belum terbit. Apalagi ibunya seorang guru. Jadi, dia mengerti permasalahan dalam novel Laskar Pelangi.

Tetapi Salman tidak sendirian. Dalam tradisi rumah produksi Miles, penulisan skenario prosesnya adalah three angle. Pengertiannya, jelas Mira, yang mengembangkan skenarionya tiga orang, yakni penulis skenario, sutradara, dan produser. "Jadi ini team work. Salman sebagai orang pertama yang menjadikan kerangka skenario. Setelah menjadi kerangka, saya dan Riri mengembangkannya lebih jauh lagi," katanya.

Andrea sendiri tak khawatir film Laskar Pelangi akan menjadi karya baru yang berbeda dengan novelnya. Ia memang menginginkan adanya pengembangan cerita dari novel ke film. "Film adaptasi harus beda dengan novelnya. Kalau tidak, buat apa bikin film. Intinya, semangat dalam novel tetap sama dengan filmnya," katanya Andrea.

Akhir kata, baik Mira maupun Andrea berharap film ini bakal sukses. "Mudah-mudahan film ini dapat diterima dengan baik dan bisa ditonton banyak orang. Bukan dari karena sisi komersil saja, melainkan pesan yang dapat menginspirasi banyak orang," ujar Mira.
WILLEM JONATA

Diperoleh dari:
Tabloid Nova

Dari Tabloid Parle - Sekali Lagi Andrea Hirata: Film "Laskar Pelangi" sebagai Langkah Berikutnya

Sabtu petang, 25 Agustus 2007, Café Omah Sendok di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, tampak ramai pengunjung. Lebih dari malam-malam biasa. Di sekeliling kolam renang, kebun belakang, separuh kapasitas kursi dan tikar telah ditempati para tamu, seraya menikmati siomay sebagai hidangan sebelum acara utama. Musik minimalis mendayu merdu di salah satu sudut memperdengarkan petikan gitar dan gesekan biola.

Rupanya, malam itu, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, tidak semata dibicarakan sebagai novel fenomenal, tetapi lebih pada rencana pembuatan filmnya. Sebagai pembicara, tampil Mira Lesmana (pihak Miles sebagai produser), Riri Riza (calon sutradara), dan Andrea Hirata sendiri sebagai pengarang novelnya. Acara diskusi dipandu oleh Gangsar Sukrisno yang juga mewakili Bentang Pustaka sebagai penerbit buku Laskar Pelangi (LP).

Di antara sekitar 100 orang yang hadir, tampak Din Syamsudin (Ketua Umum Muhammadiyah) dan Cici Tegal (artis dan pelawak). Kita tahu, novel LP mengisahkan perjuangan 11 anak yang pernah “menyelamatkan” SD Muhammadiyah tempat mereka sekolah di Belitong sehingga tak jadi ditutup. Cerita semacam roman, satu dari tetralogi yang kini telah sampai pada bagian ketiga, Edensor (bagian kedua: Sang Pemimpi ), yang mengharukan karena tak hanya mengangkat kekuatan persahabatan, namun juga memotret situasi sosial-ekonomi masyarakat setempat di tahun 80-an.
Mira Lesmana mengatakan: “Kami semua ini para pemimpi. Justru karena selalu ada kesulitan untuk sebuah proses adaptasi dari buku ke film. Sebagai medium yang berbeda, keduanya punya kelebihan masing-masing. Mudah-mudahan kerjasama ini cocok dan bersifat sinergi. Kami berjanji akan membuat film yang baik.”

LP hadir sebagai novel tentu saja atas kejelian Gangsar Sukrisno sebagai pembaca “pertama”. Awalnya ada semacam under-estimate atas kiriman naskah itu di bulan Mei 2005. Tiga hari didiamkan karena ia tak kenal siapa Andrea Hirata, tetapi akhirnya tergerak juga untuk membacanya. Dari situlah terjadi interaksi emosional yang luar biasa. Kris merasa sangat terharu sampai menitikkan air mata, sekaligus juga bisa tertawa terpingkal-pingkal, saat membacanya hingga tengah malam. Lalu lahir keputusan untuk segera menerbitkan naskah itu menjadi novel. Bahkan sejak awal, pada adegan-adegan tertentu, ia membayangkannya sebagai sebuah film.

Menurut Riri Riza, novel LP telah memberikannya sebuah pengetahuan baru. Ia tak pernah menyangka bahwa Belitong merupakan tempat yang terasa ajaib. Di sana, dalam novel dan kenyataannya, ia menemukan gap antastrata masyarakatnya. “Ini film periodik 80-an yang harus diungkap ulang.” Upaya untuk memperoleh chemistry dari kerjasama antara dirinya dengan sang novelis, Riri saling tukar film favorit dengan Andrea.

Ketika dibuka sesi tanya-jawab, ada seorang peserta diskusi yang merasa “keberatan” jika LP dibuat film. Ia, seperti juga ribuan email yang datang ke alamat Andrea, merasa khawatir film itu justru mengecewakan dan akan mengurangi keindahan cerita pada bukunya. Bagimanapun ini merupakan beban berat bagi Riri Riza dan juga Salman Aristo, yang akan menulis skenarionya. Tetapi, sebagaimana disampaikan Mira Lesmana, bahwa film yang mungkin gagal tidak akan menjatuhkan nilai novelnya.

LP, menurut Riri adalah kisah tentang orang-orang miskin, tetapi bukan orang-orang yang menunjukkan ajah duka dan sengsara. Sebagai contoh, karakter Ibu Muslimah, guru yang bila malam bekerja sebagai penjahit dan sampai kini kenyataannya masih mengendarai sepeda dari rumah menuju sekolahnya, adalah pribadi yang bersemangat. Miskin adalah takdir dan tidak untuk dijalani dengan putus asa. Rasanya, kesulitan awal dari proses pembuatan film Laskar Pelangi justru saat mencari sepuluh atau sebelas karakter yang akan menjadi tokoh-tokoh penting dalam cerita.

Acara malam itu juga menandai peresmian kontrak kerjasama antara Andrea Hirata sebagai penulis novel yang didampingi oleh Renjana (event organizer yang selama ini memanajeri kegiatan Andrea) dengan Miles Films dan Mizan Sinema dari pihak Bentang Pustaka. Cici Tegal mewanti-wanti, agar LP yang di dalamnya terkandung kuat unsur Islam (Muhammadiyah) dan mistik (keajaiban yang sering muncul dalam folklore Belitong) tidak jatuh pada gaya sinetron dakwah dalam televisi. Riri berjanji akan membuat film semacam itu. Dengan potensi cerita yang kaya petualangan kanak-kanak dan perjuangan sekitar pendidikan, diharapkan akan menembus seluruh usia penonton.

Akankah Laskar Pelangi menjadi film yang laris manis? Bayangkan dari sekarang calon penonton yang akan menyerbu bioskop, hitung saja mulai dari masyarakat Muhammadiyah yang aktif di seantero Indonesia. Sekitar 20 juta! Jadi, bayangkan saja dari sekarang.(Kurnia Effendi)

Nah, Dah puas kan beritanya lengkap lagi. Jadi tunggu saja perilisan film-nya pada masa Lebaran Tahun 2008 ini. Kita doakan semoga film ini sama gemparnya dengan Film-Film anak-anak sebelum-sebelumnya seperti : Denias, Petualangan Sherina, dll.

Bimouw

0 Comment so far:

 
Copyright © abenteuer