Ironi Sebuah Masjid Sekolah

Saat itu pukul dua belas lewat sepuluh menit..

Ku tarik nafas lega, setelah menyelesaikan salam keduaku..

Ku dudukan pantatku yang panas setelah dua jam duduk kursi kayu kelas yang sangat keras..

Ku duduk di salah satu pojok masjid sekolah itu..

Ku perhatikan tiap orang yang masuk, tak banyak, hanya segelintir murid yang akan menunaikan tugasnya kepada Allah..

Ku keluarkan teman seperjuanganku, jam tangan dan handphoneku, yang sudah jelas bukan BlackBerry..

Ku kenakan jam tangan bau itu, entah kenapa bisa setengik itu baunya..

Ku pencet beberapa kali tombol di handphoneku itu..

Ku alihkan kembali perhatianku pada sekelompok murid, sepertinya kakak kelasku yang sedang persiapan memulai jamaah baru..

Ku lirik handphoneku dan ku buka Snaptu untuk sedikit berchit chat dengan teman sekelasku yang sedang enak makan di kelas.

Ku fokuskan diriku untuk membalas semua mention sejak tadi pagi, sambil terdengar sayup-sayup takbir kakak kelasku tadi.

Ku selesaikan semua balasan, dan kembali pada kakak kelasku itu..

Ku tak menyangka, mereka sudah menyelesaikan raka'at ketiga, dan yang meherankan barisan jemaah itu bertambah hingga dua saf, beberapa guru pun ikut di dalamnya..

Ku tersenyum kecil ketika melihat gerakan aneh kakak-kakak kelasku, yang sudah jelas gerakan itu diluar gerakan sholat..

Ku perhatikan hingga salam kedua selesai dikomandangkan oleh imam..

Ku terhenyak ketika tiba-tiba terdengar suara komat mengelegar, padahal baru saja salam diselesaikan..

Ku cari asal suara itu, dan ternyata beberapa teman seangkatanku sedang bersiap sholat berjamaah kloter selanjutnya..

Ku lanjutkan renungan pojok masjid itu hingga bel berdering..

Ku hitung, dari ku duduk ternyata sudah terjadi lima sholat berjamaah "gandengan" (lanjut) di masjid itu..

Ku gelengkan kepala dan menyadari, inilah ironi sebuah masjid sekolah.

Thanks,
Bimo

0 Comment so far:

 
Copyright © abenteuer